Lihat Kubah Masjid Galvalum di Palu

Lihat Kubah Masjid Galvalum di Palu

Lihat Kubah Masjid Galvalum di Palu

Pulau jawa merupakan salah satu pulau terbesar di negara kesatuan republik Indonesia. Di pulau ini terdapat setengah dari seluruh populasi yang ada di Indonesia. Karena banyaknya populasi penduduk inilah yang menjadikan ajaran agama yang berkembang juga beragam.
Untuk beberapa orang Jawa yang sifatnya begitu lunak serta toleransi, langkah yang sekian itu dia anggap begitu sempit serta tidak tahu perubahan jaman yang telah maju serta dilihat kurang miliki rasa persatuan, walau sebenarnya Negara Indonesia mulai sejak tanggal 17 Agustus 1945 telah merdeka dengan symbol Bhinneka Tunggal Ika. Jadi walau keyakinan keagamaan beraneka sebaiknya janganlah serang menyerang untuk melindungi persatuan serta kesatuan Negara ada Kubah Masjid Galvalum. Di antara pengikut-pengikutnya yang melihat ajaran Resi Kusumodewo itu satu nglemu (Pengetahuan), jadi bukanlah satu agama, memohon supaya ajaran (Agama Buda Wisnu) itu di menjadikan paguron saja, panti pengetahuan, mereka berikut yang membangun Panti Agama Budha. Hal semacam ini, diantaranya yang mengakibatkan muncul perpecahan-perpecahan dalam agama Budha Jawi atau Agama Budha Wisnu. Setelah dicabutnya SOB serta kembalinya Negara pada Ketentuan Tertip Sipil, hingga tetaplah bertahan di Kubah Masjid Galvalum hingga kemana perubahan agama atau keyakinan ini belum juga didapat berita atau info yang riil serta terang.
Langkah perkawinan Agama Budha Jawi pimpinan Resi Kusumodewo. Pengantin lelaki serta wanita duduk berjajar berada di belakang Resi Kusumodewo, lalu sang Resi berbalik bertanya pada ke-2 mempelai itu “apakah mereka keduanya telah keduanya sama sukai dengan tak ada yang memaksa? ” lalu ke-2 pengantin menjawab, kalau mereka semasing atas kemauannya sendiri, dengan keduanya sama sukai (suka-sinukan). Setelah itu di tanya “apakah keduanya mampu memenuhi kriteria perkawinan serta kriteria perjodohan”. Mereka menjawab mampu. Pada saat acara perkawinan disyaratkan menggunakan sajen, yaitu beberapa makanan spesifik, disiapkan juga dupa, sebangsa kemenyan, lantas mereka berdua mengatakan sekian atas pimpinan Resi Kusumodewo, Hong Ilaheng ngingono matutik,
Luput sarik kalawan sandi, Luput dhendhane Tawang-Towong, Jagat Dewa Bathara, Buwana Abadi Kubah Masjid Galvalum, Juga diupayakan supaya wakil-wakil dari ke-2 belah pihak mempelai itu bisa ikut menghadirinya. Semasing dari mempelai oleh Resi atau pendhita-nya di beri surat kawin. Menurut info yang didapat, aliran keyakinan Buda Wisnu memiliki langkah penguburan jenazah sendiri, beda dari langkah penguburan mayat beberapa orang Islam serta Kristen. Bila bisa diambil kesimpulan langkah penguburannya nyaris sama juga dengan beberapa cara Islam serta Kristen, cuma berlainan tentang upacara, seperti penyembahyangan, mendoa dsb. Mayat kelompok agama Buda Jawi ini dikubur, berarti dibakar.
Aliran keyakinan yang dimaksud Agama Budha Jawi atau Agama Budha Wisnu oleh penciptanya dinyatakan satu Agama serta sempat disuruhkan pernyataan pada pemerintah Republik Indonesia, supaya memperoleh pernyataan seperti Agama-Agama yang beda, yakni Agama Islam, Kristen, serta Hindhu Bali, namun belumlah ada terdengar bahasan yang menyebutkan satu pernyataan “agama” dari pihak pemerintah pada aliran keyakinan ini, bahkan juga demikian sebaliknya sempat dilarang lakukan aktivitas untuk memperkembangkan apa yang diyakininya. Jadi dengan terdapatnya Kubah Masjid Galvalum Bila kita tekuni lebih dalam sebenarnya kurang kriteria untuk disamakan dengan satu diantara agama yang dilihat telah mendekati pernyataan dari pemerintahan Republik Indonesia.

Leave a Comment