Page Rank Promoter
Uncategorized

Zakat Fitrah , Pengertian dan Hukumnya

Zakat fitrah disyariatkan pada th. ke-2 Hijriah bln. Syakban. Mulai sejak waktu itu zakat fitrah jadi pengeluaran harus yang dikerjakan tiap-tiap muslim yang memiliki keunggulan dari kepentingan keluarga yang lumrah saat malam serta hari raya Idul Fitri, jadi sinyal sukur pada Allah karna sudah merampungkan beribadah puasa.

Terkecuali untuk membahagiakan hati fakir miskin pada hari raya Idul Fitri, juga ditujukan untuk bersihkan dosa-dosa kecil yang mungkin saja ada saat seorang melakukan puasa Ramadan, agar orang itu betul-betul kembali ke kondisi fitrah serta suci seperti saat dilahirkan dari rahim ibunya.

Beberapa ulama setuju kalau zakat fitrah hukumnya harus untuk tiap-tiap individu berdasar pada hadis Ibnu Umar ra yang berkata, “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitrah bln. Ramadan sejumlah satu sha’ kurma atau gandum atas tiap-tiap muslim merdeka atau hamba sahaya lelaki atau perempuan” (HR. Bukhari Muslim).

Berdasar pada hadis itu, zakat fitrah diharuskan pada tiap-tiap muslim, baik merdeka ataupun budak, lelaki ataupun wanita, besar ataupun kecil, kaya ataupun miskin. Seseorang lelaki keluarkan zakat untuk dianya serta beberapa orang sebagai tanggung jawabnya.

Seseorang istri keluarkan zakat fitrah untuk dianya atau oleh suaminya. Bayi yang tetap dalam kandungan belum juga terserang harus zakat fitrah. Namun bila ada seseorang bayi lahir sebelumnya matahari tenggelam pada hari paling akhir bln. zakat fitrah dengan uang  Ramadan, jadi zakat fitrahnya harus dikerjakan. Demikian pula bila ada orangtua wafat dunia sesudah matahari tenggelam pada hari paling akhir di bln. Ramadan, zakat fitrahnya harus juga dibayarkan.

B. Kandungan Zakat Fitrah

Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad serta beberapa ulama beda setuju kalau zakat fitrah dikerjakan sebesar satu sha’ (di Indonesia, berat satu sha’ dibakukan jadi 2, 5 kg) kurma, gandum, atau makanan beda sebagai makanan pokok negeri yang berkaitan.
Imam Hanafi membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang sejumlah bahan makanan pokok yang harus dibayarkan. Tetapi, ukuran satu sha’ menurut mazhab Hanafiyyah lebih tinggi dari pada pendapat beberapa ulama yang beda, yaitu 3, 8 kg.

Menanggapi ketidaksamaan pendapat mengenai kandungan zakat fitrah, ada pandangan yang berupaya mengombinasikan semua pendapat. Jadi, seumpamanya punya maksud membayar zakat fitrah dengan beras, baiknya ikuti pendapat yang menyebutkan 2, 5 kg beras. Namun kalau punya maksud membayar zakat fitrah dengan memakai uang, manfaatkanlah patokan 3, 8 kg beras. Langkah begini di ambil untuk kehati-hatian dalam menggerakkan beribadah.

C. Saat Pembayaran Zakat Fitrah

Saat harus membayar zakat fitrah pada aslinya yaitu pada saat matahari tenggelam saat malam hari raya Idul Fitri. Namun tak ada larangan jika membayarnya sebelumnya saat itu, seandainya tetap dalam hitungan bln. Ramadan.

Leave a Reply