Page Rank Promoter
Pendidikan

pandangan Ki hajar dewantara

Sebagian masa lalu istri saya tengah bercakap di satu diantara group sosial media, satu diantara rekannya waktu diskusi mempromosikan “sekolah Montessori”. Mungkin saja kita telah keduanya sama tahu, banyak PAUD, TK, maupun SD yang memiliki loabel “Montessori”. Montessori di ambil dari nama seseorang pakar pendidikan dari seseorang pakar pendidikan Italia bernama Dr. Maria Tecla Artemisia Montessori (1870-1952).

Dia yang meningkatkan cara pendidikan sesuai sama namanya, cara Montessori. Menurut rekan istri saya, Ki Hajar saja muridnya Montessori. Benarkah sekian? Pada 1922, Soewardi Soerjaningrat resmi banting setir dari aktivis politik jadi aktivis pendidikan serta lalu ganti namanya jadi Ki Hajar Dewantara. Soewardi sendiri mulai tertarik serta belajar tentang system pendidikan kolonial saat dibuang ke negeri Belanda pada 1913.

Saat di Belanda dia peroleh ijazah guru serta ambil sisi dalam satu diskusi pada Kongres Pendidikan Kolonial, di sana pertama kalinya dia menyarankan pendidikan nasional untuk beberapa orang Indonesia.

Sesudah kembali pada Hindia Belanda pada 1919, jadi pengelola majalah Persatuan Hindia, serta jadi sekretaris National Indische Partij (NIP), versus baru dari Indische Partij masih tetap menulis artikel-artikel politik yang radikal serta provokatif menyerang pemerintah. Karna tidak kapok-kapok, pada akhirnya Soewardi ditangkap sekali lagi, dipenjarakan plus dihukum kerja paksa pada 1920, tidak cuma itu NIP juga dilarang serta dibubarkan ada 1922. Pada th. yang sama Soewardi, atau saat ini Ki Hajar dibebaskan serta membangun Sekolah Taman Siswa. Mungkin saja dia lihat kalau perlawanan non-kooperatif yang frontal dibawah represi Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, yang lalu ditukar oleh Dirk Fock pada 1921 tidaklah terlalu efisien, serta dia mencari langkah perlawanan yang beda, yakni lewat pendidikan. Mulai sejak dibangun, Sekolah Taman Siswa menampik keras uang pertolongan pemerintah, hingga tidak dapat dengan gampang disetir oleh pemerintah.

Mulai sejak itu artikel-artikelnya yang menyebar di beberapa media mulai menyoroti problem pendidikan. Dari sana kita dapat tahu pendidikan seperti apa yang dibuat oleh Ayah Pendidikan Nasional kita ini.

Ki Hajar, dalam artikelnya pada majalah “Pusara” jilid XI, nomor 8 th. 1941 menyebutkan kalau memanglah beberapa orang saat itu menduga kalau pendidikan di Taman Siswa hanya aliran Tagore – Montessori. Memanglah benar kalau Dr Rabindranath Tagore, tokoh nasional serta tokoh pendidikan dari India, pendiri sekolah Shanti Niketan serta orang asia penerima nobel sastra pertama itu sempat bertandang ke pusat perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927, demikian halnya Maria Montessori dijelaskan sempat juga bertandang pada 1941. Juga photo keduanya sempat terpampang di pendapa serta sekolah Taman Siswa yang pertama.

Ki Hajar menyebutkan, “Sebenarnya kita menggantungkan potret dari ke-2 pemimpin itu tidak beda karna kedua-duanya kita anggap jadi penunjuk jalan baru, Montessori serta Tagore adalah pembongkar dunia pendidikan lama dan pembangun aliran baru. ” Akan tetapi malah di sini Ki Hajar kagum pada keduanya sekalian lakukan kritik pada keduanya untuk sama-sama lengkapi serta jadikan fondasi system pendidikan Taman Siswa pada saat itu yang dimaksud mesti ikuti perubahan zaman moderen tetapi harus juga “kulturil-nasional” yakni tidak bisa meninggalkan kebiasaan budaya baik yang telah ada serta masih tetap tidak mati dalam orang-orang. Ketidaksamaan pada system Montessori serta Tagore itu terdapat pada tujuannya. Montessori begitu mementingkan tidak mati jasmani anak-anak, terlebih untuk merangsang serta memaksimalkan perubahan kognitif serta panca-inderanya.

Menurut Ki Hajar, cara pendidikan Montessori tidak menyentuh perubahan batin anak-anak, yang disebut batin disini yaitu mengajarkan anak untuk mengetahui pencipta-Nya serta kata Ki Hajar “semata-mata berbentuk psikologis, jauh dari tujuan religius. ” Sesaat Dr.

Tagore membuat system pendidikan anak hanya jadi alat serta prasyarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan dalam makna yang sedalam-dalamnya, yakni religiusitas. Akan tetapi kurang mengutamakan beberapa masalah kognitif serta psikologis. Lebih jauh sekali lagi waktu pidato pada rapat besar pergerakan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), September 1943 Ki Hajar dengan berapi-api menyebutkan kalau pendidikan Eropa itu baik ada tetapi “Sangat meremehkan kecerdasan budi-pekerti hingga menyebabkan penyakit intellektualisme yaitu mendewakan angan-angan, semangat mendewakan angan-angan itu menyebabkan kemurkaan-diri atau individualisme serta kemurkaan-benda atau materialisme, tersebut yang mengakibatkan hancurnya ketentraman serta kedamaian didalam hidupnya orang-orang! ” Pendidikan Dikhianati Oleh karenanya Ki Hajar tidak ambil mentah-mentah system pendidikan barat, tetapi mensinergikannya dengan kekayaan budaya nasional serta pendidikan spiritual. Nampaknya pendapat Ki Hajar ini masih tetap relevan sampai sekarang ini, paling tidak menurut gw.

Pendidikan ” dikhianati ” tujuannya bukanlah untuk buka batin (rasa-spiritual), memerdekakan fikiran (cipta) serta membuat kemandirian (karsa). Tapi malah untuk menceburkan diri pada materialisme, sekolah agar bisa kerja, kerja jadi pegawai, tak tahu negeri atau swasta. Jadi pegawai menguber karier agar bisa uang banyak, miliki tempat tinggal besar (materi/benda), miliki mobil (materi), dapat beli iphone (materi), tas bermerk (materi), arloji Fossil (materi), sepatu Nike atau Adidas (materi), dapat berlibur ke luar negeri serta bebrapa photo (ketenaran), bila butuh tempat tinggal, tanah serta mobil lebih dari satu atau sebanyak mungkin (materi sekali lagi). Ki Hajar tidak menyebutkan kalau mempunyai materi, benda-benda keperluan keseharian itu salah, yang disalahkan beliau yaitu kerakusan, rakus menginginkan mempunyai lebih dari yang diperlukan, bila butuh dengan berhutang (bebrapa sekali lagi materi).

Hingga detik ini pengertian “sukses” masih tetap sesuai sama itu untuk beberapa besar orang Indonesia. Apa namanya itu bila bukanlah materialisme? Mungkin saja pada titik Nietszche benar kalau Tuhan sudah mati “dibunuh”. Atau bila sangat berlebihan, Tuhan dikerdilkan dalam tembok-tembok tempat tinggal beribadah, rapalan-rapalan doa, serta pelajaran agama. Tuhan diusir dalam pelajaran Fisika, Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi, Berolahraga serta nyaris semuanya materi yang di ajarkan di sekolah. Jadi menurut gw, walau dalam artikel-artikelnya Ki Hajar kagum pada sekalian mengkritik Montessori, yang dalam hal semacam ini saat itu jadi wakil dari system pendidikan barat pada umumnya.

Ki Hajar sesungguhnya tengah lakukan kritik pada pendidikan barat keseluruhannya. Ironisnya, malah jenis pendidikan seperti sekian yang sekarang ini tengah naik daun. Sekolah berlomba memperoleh sertifikasi “Cambridge” atau memiliki loabel internasional serta semacamnya untuk menarik beberapa orang-tua kalau institusinya “berkualitas”. Terlebih ada usaha pemerintah untuk mengaplikasikan system “student loan” atau “sekolah dengan hutang” seperti yang berlaku di Amerika serta dapat dibuktikan membelenggu lulusannya dengan hutang seumur tidak mati. Sekolah bukanlah sekali lagi tempat mengasyikkan untuk membuat orang-orang yang damai (Shanti Niketan), tapi jadi sisi dari mesin perusahaan-perusahaan besar yang rakus mencari uang sebanyak-banyaknya

Leave a Reply