Page Rank Promoter
Uncategorized

Bersedekah di Waktu Sempit Ternyata Lebih Utama, Benarkah?

Melakukan kebaikan memang tak mengetahui saat dan tempat. Kita sebagai seorang muslim dapat melakukan kebaikan itu kapanpun dan dimana saja, pada saat kita dapat untuk mengerjakannya jadi kerjakan jangan pernah kita menundanya.

Lantas, satu diantara kebaikan yang dapat dilakukan yaitu bersedekah. Tapi, apakah benar jika bersedekah dalam keadaan sempit yaitu lebih utama dibanding dalam keadaan lega? Tersebut ini keterangan dari Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.

Ia dalam kondisi sulit dan lega, sehat dan sakit dan dalam setiap keadaan tetap berupaya untuk bersedekah. Kata Ibnul Jauzi rahimahullah dalam Zaad Al-Masiir (1 : 460), Ibnu ‘Abbas berkata kalau mereka berinfak baik dalam kondisi sulit ataupun lega. Sedangkan maksud ayat yaitu mereka tetap bersedekah dan tidak lupa untuk bersedekah saat dalam kondisi lega. Saat sulit juga, mereka tetap bersedekah. Artinya, terlepas dari mereka karakter pelit.

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah, “Saat susah tetap sedekah, saat lega juga bersedekah. Jika ada dalam kondisi lega, ia memperbanyak sedekahnya. Jika dalam kondisi susah, ia tetap melakukan perbuatan baik walaupun sedikit. ” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hlm. 148)

Dalam ayat yang lain dijelaskan tentang balasan dari orang yang rajin sedekah,

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya pada malam dan di siang hari dengan tersembunyi dan terang-terangan, jadi mereka memperoleh pahala di bagian Rabbnya. Tidak ada kecemasan pada mereka dan tidak (juga) mereka bersedih hati. ” (QS. Al-Baqarah : 274)

Ada motivasi untuk bersedekah dalam kondisi sehat yakni dijelaskan dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata kalau ada seseorang yang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia berkata,

“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang semakin besar pahalanya? ” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah ketika anda masih sehat dibarengi pelit (susah keluarkan harta), saat anda takut jadi fakir, dan saat anda berangan-angan jadi kaya. sedekah online Dan jangan sampai engkau menahan-nahan sedekah itu sampai jika nyawamu sudah tiba di tenggorokan, anda baru berkata, “Untuk si fulan demikian dan untuk fulan demikian, dan harta itu sudah jadi hak si fulan. ” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).

Yang disebut kondisi sehat disini yaitu dalam kondisi tidak tertimpa sakit. Mengenai pelit atau syahih yang disebut yaitu pelit ditambah miliki rasa tamak.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan kalau orang pelit itu saat dalam kondisi sehat jika ia berbaik hati bersedekah dalam kondisi sehat sesuai sama itu, jadi terbuktilah akan benarnya tujuannya dan besarnya pahala yang didapat. Hal ini berlainan dengan orang yang bersedekah saat mendekati akhir hayat atau sudah tidak ada keinginan sekali lagi untuk tidak mati, jadi sedekah saat itu masih merasa kurang berlainan perihal saat sehat. (Syarh Shahih Muslim, 7 : 112)

Ada pula keutamaan bersedekah dalam kondisi sulit. Dari Abu Hurairah dan ‘Abdullah bin Hubsyi Al Khots’ami, kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat ditanya sedekah mana yang paling afdhol. Jawab beliau,

“Sedekah dari orang yang serba kekurangan. ” (HR. An-Nasa’I, no. 2526. Syaikh Al-Albani mengatakan kalau hadits ini shahih)

Hadits diatas terdapat banyak tafsiran. Ada ulama yang mengatakan tujuannya yaitu keutamaan sedekah saat sulit. Ada yang mengatakan kalau sedekah itu dilakukan dalam kondisi hati yang selalu “ghina” yakni penuh kecukupan. Ada pula yang mengatakan tujuannya yaitu bersedekah dalam kondisi miskin dan sabar dengan kelaparan. (Saksikan ‘Aun Al-Ma’bud, 4 : 227)

Dalam hadits dijelaskan,

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu dirham bisa mengungguli seratus ribu dirham“. Lantas ada yang ajukan pertanyaan, “Bagaimana itu dapat terjadi wahai Rasulullah? ” Beliau terangkan, “Ada seorang yang memiliki dua dirham lantas ambil satu dirham untuk disedekahkan. Ada juga seseorang memiliki harta yang banyak, lantas ia ambil dari kantongnya seratus ribu dirham untuk disedekahkan. ” (HR. An-Nasa’i no. 2527 dan Imam Ahmad 2 : 379. Syaikh Al-Albani mengatakan kalau hadits ini hasan). Hadits ini tunjukkan keutamaan sedekah dari orang yang sulit dibanding dengan orang yang memiliki harta melimpah.

Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Reply